
Menulis cerpen itu mudah. Sama seperti kalau kita berbicara, bercerita, hanya bedanya menulis cerpen adalah bercerita dengan tulisan. Jadi lupakan segala teori penulisan cerpen yang muluk-muluk dan mulailah bercerita…Oke daripada mbulet gak karuan sekarang langsung ke langkah pertama :
1. Nyalakan komputermu, mulailah menulis kata pertama….terserah tidak harus bingung milih kata. Kalau susah cobalah dengan kata… “Pada suatu hari.” .ntar gampang kalau mau di edit.
2. Mulailah dengan sudut pandang orang pertama. Jangan salah, sudut pandang ini sering dipakai oleh novelis besar seperti John Grisham, atau almarhum Michael Crichton yang menelorkan karya Jurassic Park.
Contoh :
Pada suatu hari aku sedang mengetik di kamarku, lalu tiba-tiba Shanti memanggilku, “ Ron, Ronny.., kamu lagi ngapain? “ Aku diam saja sambil membatin “ngapain sih cewek ini gangguin aja” .Aku kembali menulis cerpenku dst
1. Hapus semua kaidah penulisan cerpen yang kamu dapat dari bangku SD sampe kuliah, karena itu hanya menghambat kreatifitasmu, bayangin aja gimana mau nulis kalo aturannya banyak banget, Harus bikin kerangka karanganlah, harus ada idepokoklah, harus EYD lah harus baku kalimatnya, harus tanda bacanya bagus , harus deskriptif. Padahal banyak lho penulis yang menulis gak jelas tapi malah terkenal karena dinggap cerpennya misterius hehehe, padahal mungkin emang lupa ngasih ending..so jangan khawatir. Menulis cerpen dulu mikir belakangan ..
2. Trus gimana bikin cerpen yang bagus? Gak ada ide? halah ..ide itu otomatis selalu ada di kepalamu, gak perlu melamun cari inspirasi, cukup tulis kehidupanmu sehari ini saja.. Coba lihat salah satu syairnya slank..”aku langsung bangun dan bakar rokok..” nah gitu aja jadi lagu terkenal.. coba lihat contoh :
Waduh, aku terlambat kuliah nih. Padahal Jakarta selalu macet. Belum mandi nih, mandi dulu ah.. , Eh lagi asiknya mandi tiba tiba handphoneku bunyi. Gimana nih, terpaksa deh aku keluar dari kamar mandi berlilit handuk masih basah kuyup. Yak, berhasil mencapai handphone dan kuangkat “ halooowww..” ……dst
5. Dah gitu aja, kalo banyak2 malah gak nulis2, selamat berkarya cerpenmaniaaa…, kalo kesulitan kembalilah ke poin 1
Read More......

Di antara malam yang terus mengalir di atas tikar bumi. Ada malam yang tercipta lebih mulia dari malam-malam lain. Mendulang satu bulan mulia kubah surga dalam 99 butir biji tasbih yang lebur di tiap dahaga dan perih kenyang berupa liur. Di malam itu ada suatu badai berkah yang menepi mereda menyisihkan diri dan menyerahkan kedua lengan pahalanya. Menyinarkan cahaya dari berjuta kemilau cahaya bulan ke hati makhluk pilihan. Menjejakkan kaki lebih dari dalamnya bumi. Mencengkramkan jari lebih dari paku bumi yang menjambak utas mayang pertiwi.
Di malam itu sebentuk cahaya melintas secepat kilat menembus mata. Meloloskan hempas lapar haus dahaga yang mencekik leher dan mencengkram perut. Menikam menembus usus.
Malam ini bulan menyandang jubah kebesarannya. Berkilau bak menyembul dari batas bening mata air. Dari pembaringanku bulan terlihat separuh tersipu. Memendarkan cahayanya, mulai menyisingkan sibak sang awan yang menimang bintang.
“Darma! Bantuin Ibu sini!“ suara Ibu mengusir lamunanku. Dari dalam kamar aku melongokkan kepalaku keluar.
“Cepetan!“ Ibu melambaikan tangannya begitu melihat wajahku di antara daun pintu.
“Ada apa sih, Bu? Darma lagi males nih.“ sungutku lesu.
“Eehh… Bantuin Ibu cari kain panjang di lemari.“ pinta Ibu sambil menarik tanganku agar mendekatinya. “Mbakyumu sebentar lagi melahirkan. Pasti butuh kain yang nggak sedikit.“ tambah Ibu menggelitik keingintahuanku.
“Mbak Imar mau melahirkan?“
Aku teringat pada perempuan malang itu ketika pertama kali datang ke rumah dan meminta agar Ibu bersedia memberinya tumpangan. Perutnya yang besar tanpa status yang jelas sempat dipergunjingkan masyarakat di kampung kami. Tapi sifat belas kasihan Ibu menebalkan telinganya. Sindiran orang bak angin lalu bagi Ibu. Toh pada akhirnya hilang dengan sendirinya.
“Bu bidan udah menanganinya.“ Ibu terus mengaduk-aduk lipatan kain di lemari tua kami.
Mbak Imar pernah cerita ke aku kalau dia adalah korban bujukan rayuan syetan. Entahlah! Aku belum mengerti dengan apa yang ia katakan saat itu. Bujukan apa? Rayuan apa? Dan pertanyaan lain yang tak berani untuk kutanyakan.
“Mbak pengen anak mbak kelak jadi orang yang saleh dan berbakti pada orang tua.“ Mbak Imar mengelus perutnya yang kian membesar. Di bulan ramadlan ini usia kandungannya genap sembilan bulan.
“Ntar kalau laki-laki, namanya Gilang Ramadan aja Mbak!“ ceplosku spontan.
“Boleh juga. Tapi kalau perempuan?“ Mbak Imar mengerlingkan matanya padaku.
“Ee…siapa ya?“
“Darma!!“ Ibu menyentakkan lamunanku. “Ibu pergi dulu ke rumah sakit. Doakan Mbakmu! Wudlu dan pergilah sholat!“ Tambah Ibu mengingatkanku sebelum pergi.
Suara langkah Ibu menghilang bersamaan tubuhnya yang sirna ditelan gelapnya malam.
Sejuk air wudlu menggusur gusar melintang dalam balur kalimat Allah. Meluncur sebaris doa beruntun dalam sebut Sang Rahman. Mengibarkan sebentuk harap melambai dari dalam linangan taubat. Di malam seribu malam ini, aku berharap atas nama seorang wanita. Lekukan badan, lipatan tulang dan sujudku melafazd kebesaran Illahi tak henti dalam leleh peluh keringat.
“Mbak memang pernah hidup penuh dosa. Tapi Mbak pengen mati dalam Islam dan kelak mendapatkan surga.”
Ketika kalimat istighfar masih basah melekat di bibirnya. Berulang kali kata-kata itu terngiang di telingaku. Kalimat yang sama ketika panas di lutut masih mengepul menempa kerasnya lantai beralas sajadah. Dan memerah kening menyentuh kiblat bak mengingat jutaan hitam mahkota kepala.
Dua bola mungil nan bening itu mendekap kagumku.
“Subhanallah…”
Bulat wajah mungilnya menyimpan sebentuk cahaya yang hanya dapat dilihat oleh gelap yang temaram. Kesucianya terlalu mendekap hatiku.
Tapi tangis lengkingnya mewakili kesedihanku mengantar jasad wanita malang yang mengaitkan mimpi pada cahaya kecil dan berharap mampu meredupkan angkuhnya matahari. Sembari menutup dua jendela hati. Aku turutkan seonggok doa lewat batin yang melolong menderitkan pintu surga. Ku coba menderitkan pintu surga!
by el_ghazaliy
Read More......